RSS

Catatan untuk Buku Meniti Kesempurnaan Iman Karya Habib Munzir Al-Musawa (bag. 2)

08 Okt
Catatan untuk Buku Meniti Kesempurnaan Iman Karya Habib Munzir Al-Musawa (bag. 2)

Oleh : Ibnu Mugnie Al-Banjary

Pada bab kedua ini, Habib Munzir membantah Ibnu Baaz Rahimahullahu di dalam pengingkarannya terhadap amalan orang-orang yang menghidupkan malam Nisfu Sya’ban  (pertengahan Sya’ban). Maka karena catatan ini adalah tanggapan untuk buku Habib Munzir, maka terkait dengan hukum Nisfu Sya’ban sendiri silahkan baca dahulu di sini. Kami sendiri hanya akan menanggapi tulisan Habib Munzir.

Habib Munzir berkata di halaman 28 dan 29 :

Berkata  Imam  Syafii  rahimahullah  “Doa mustajab adalah pada 5 malam, yaitu malam Jum’at, malam Idul Adha, malam Idul Fitri, malam pertama bulan Rajab, dan malam Nisfu Sya’ban”  (Sunan Al Kubra Imam Baihaqiy juz 3 hal 319).

Dengan  fatwa  ini  maka  kita  memperbanyak doa  di  malam  itu,  jelas  pula  bahwa  doa  tak  bisa dilarang  kapanpun  dan  dimanapun,  bila  mereka melarang doa maka hendaknya mereka menunjukkan dalilnya?,

Kemudian  berkata pada hal 30-31 :

Para ulama kita menyarankan untuk membaca surat Yaasiin 3x , itu pula haram seseorang mengingkarinya,  kenapa  dilarang?  apa  dalilnya seseorang membaca surat Alqur’an? melarangnya adalah haram secara mutlak.

Sebagaimana Imam Masjid Quba yang selalu menyertakan surat Al Ikhlas bila ia menjadi imam, selalu ia membaca Al Ikhlas disetiap raka’atnya setelah surat Al Fatihah, ia membaca Al Fatihah, lalu Al Ikhlas, baru surat lainnya, demikian pada setiap sholatnya, bukankah ini kegiatan yang tak diajarkan oleh Rasul saw? bukankah ini menambah-nambahi bacaan dalam sholat? Maka makmumnya berdatangan pada Rasul saw seraya mengadukannya, maka Rasul saw memanggilnya dan bertanya mengapa ia berbuat demikian, dan orang itu menjawab innii uhibbuHaa (aku mencintainya), yaitu mencintai surat Al Ikhlas, hingga selalu menggandengkan Al Ikhlas dengan Al Fatihah dalam setiap rakaat dalam sholatnya. Apa jawaban Rasul saw? Apakah Rasul saw berkata: “Kenapa engkau buat syariah dan ajaran baru? Apakah ibadah sholat yang kuajarkan belum sempurna???” beliau tak mengatakan demikian, malah seraya berkata: hubbuka iyyaahaa adkholakal jannah (cintamu pada surat Al Ikhlas itulah yang akan membuatmu masuk surga).

Hadits ini dua kali diriwayatkan dalam Shahih Bukhori dan Shahih Bukhori adalah kitab hadits yang terkuat dari seluruh kitab hadits lainnya untuk dijadikan dalil, maka jelaslah Rasul saw tak melarang berupa ide-ide baru yang datang dari iman, selama tidak merubah syariah yang telah ada, apalagi hal itu merupakan kebaikan ???

 

CATATAN KAMI

Disini habib Munzir meletakkan dalil yang tidak pada tempatnya, Bagaimana dia bisa berdalil dengan perbuatan yang terjadi ketika zaman Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam masih hidup dan kemudian perbuatan sahabat tersebut dibenarkan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam kemudian dijadikan dalil dan diterapkan pada perbuatan dan amalan yang dilakukan jauh sesudah beliau Shalallahu ‘alaihi wassallam meninggal.

Sesuatu yang sudah maklum, bahwa sesuatu yang dibenarkan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam adalah dalil di agama ini dan ini adalah salah satu jenis hadits Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam yaitu Iqror (pembenaran) dari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam .

Adapun ketika Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam sudah wafat, kemana kita harus mengadu dan bertanya tentang amalan-amalan yang diamalkan manusia ??? maka sungguh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam sendiri telah bersabda :

Dari Aisyah radhiallahu anha bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَد

“Siapa saja yang mengadakan perkara baru dalam urusan kami ini apa-apa yang bukan darinya maka dia tertolak”. (HR. Al-Bukhari no. 2550 dan Muslim no. 1717)

Lalu ucapan Habib Munzir berdalil dengan hadits ini :

, maka jelaslah Rasul saw tak melarang berupa ide-ide baru yang datang dari iman, selama tidak merubah syariah yang telah ada, apalagi hal itu merupakan kebaikan ???

Ini kalimat yang tidak benar, Sungguh telah kita temukan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam mengingkari dan melarang  beberapa perbuatan sahabatnya yang mungkin menurut istilah habib munzir “ selama tidak merubah syariah yang telah ada”

Lihatlah tentang larangan sholat pada waktu-waktu tertentu, dalam keadaan sholat adalah tiang Agama ini :

Abdullah bin ‘Abbas Rhadiyallahu ‘anhu Ia berkata:

“Telah bersaksi di sisiku beberapa orang yang diridhai dan yang paling aku ridha adalah ‘Umar, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam  melarang shalat setelah fajar hingga terbitnya matahari, dan setelah ‘Ashar hingga terbenamnya matahari.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan perhatikan bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam ‘anhu memanjangkan sholatnya, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam sholat membaca al-Baqarah, an-Nisâ‘ dan Ali ‘Imran dalam satu raka’at (HR Imam Muslim rahimahullâh dalam Shahih-nya (1/536-537), dari hadits Hudzaifah radhiyallâhu’anhu.)

Tapi lihatlah ketika Muadz Rhadiyallahu ‘anhu menerapkan sunnah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam tersebut tidak pada tempatnya, sebagaimana diceritakan Jabir  Rhadiyallahu ‘anhu dia berkata: “Mu’adz mengimami shalat Isya bagi para sahabatnya, lalu dia memanjangkan (shalat) hingga memberatkan mereka. Maka beliau n bersabda: ‘Apakah engkau ingin menjadi orang yang menimbulkan fitnah, wahai Mu’adz? Apabila engkau mengimami orang-orang, bacalah Wasy-syamsi wa dhuhaha, atau Sabbihisma rabbikal a’la, atau Iqra` bismi rabbika, atau Wal-laili idza yaghsya’.” (Muttafaqun ‘alaih)

Perhatikan pula apa yang dikatakan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam tentang cara berdzikir para sahabatnya dalam keadaan dzikir adalah sesuatu yang disyariatkan, Dari Abu Musa Al-Asy’ari Rhadiyallahu ‘anhu :

“Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (dalam perjalanan). Jika kami mendaki bukit maka kami bertahlil dan bertakbir hingga suara kami meninggi. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wahai sekalian manusia, kasihanilah (baca: jangan paksakan) diri-diri kalian, karena sesungguhnya kalian tidak berdoa kepada Zat yang tuli dan juga tidak hadir. Sesungguhnya Dia -yang Maha berkah namanya dan Maha tinggi kemuliaannya- mendengar dan dekat dengan kalian.” (HR. Al-Bukhari no. 2830 dan Muslim no. 2704).

Maka perhatikanlah , bahwa pada satu keadaan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam membenarkan perbuatan sahabatnya dan pada keadaan lain beliau mengingkari dan melarang perbuatan sahabat, dalam keadaan semua perbuatan tersebut ada asalnya ada dari syariat, tidak seperti yang diklaim oleh habib munzir dengan kalimatnya ” , maka jelaslah Rasul saw tak melarang berupa ide-ide baru yang datang dari iman, selama tidak merubah syariah yang telah ada, apalagi hal itu merupakan kebaikan”

Dan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam telah wafat, dan wahyu telah terputus, dan agama telah sempurna.

Berkata di Hal.32:

Beramal  dengan  hadits  dhoif  adalah  boleh, bukan dijadikan dalil hukum syariah ,bukan dijadikan dalil hukum fardhu atau hukum jinayat atau hukum syariah lainnya Mereka tak bisa membedakan antara amal ibadah mustahab dengan hukum fardhu dan syara.

CATATAN KAMI

Ketika seseorang telah mengamalkan sebuah amalan, baik amalan fardhu, mustahab, jinayat dll maka secara tidak langsung baik sadar ataupun tidak, dia telah meyakini bahwa hal tersebut adalah perkara syariah yang datang dari Allah , karena dia meyakini hal itu akan menyebabkan dia mendapatkan pahala dan akan mendekatkan dia ke surga, dan dia meyakini bahwa itu adalah bagian dari agama islam. Dan ini adalah perkara Aqidah, yaitu meyakini bahwa suatu perbuatan telah dicintai Allah

mengenai beramal dengan hadits dho’if, silahkan lihat catatan kami disini.

Berkata di hal 32 :

Nisfu  Sya’ban  tak  ada  perayaan,  siapa  pula yang  merayakannya?  cuma wahabi  (gelar  bagi penganut faham Ibn Abdul Wahhab, sebagaimana pengikut  madzhab  Imam  Malik  disebut  Malikiy, pengikut Imam Syafi’i disebut Syafi’iy) saja yang menuduhnya, kalau untuk kelompok mereka tidak

ada istilah bid’ah dan musyrik, walau pakai pesta dan memajang foto – fotonya di masjid dan dimana – mana. Itu sih tidak mengapa, juga hari ulang tahun kelompoknya, buat pesta besar – besaran dengan menggelar panggung artis dan musik, itu sih tidak mengapa tapi Nisfu Sya’ban bid’ah.

CATATAN KAMI

Ada dua kandungan di kalimat-kalimat ini :

Pertama : Klaim bahwa pada malam Nisfu Sya’ban tidak ada perayaan, jujurkah ???

Maka kami katakan, Apa makna perayaan : “pe·ra·ya·an n pesta (keramaian dsb) untuk merayakan suatu peristiwa ” (Kamus Besar bahasa Indonesia)

Maka silahkan buka http://www.youtube.com ketik di kotak pencarian, “Tabligh Akbar Majelis Rasulullah SAW Malam Nisfu Sya’ban” atau langsung klik disini

Perayaan atau bukan ???

 

Kedua : Wahabi [1] melaksanakan pesta, memajang foto di mesjid, pada hari ulang tahun kelompoknya membuat pesta mengundang artis dan musik

Maka kemungkinan besar yang anda anggap wahabi adalah Ibnu Baaz yang bukunya anda bantah dan juga ulama-ulama Saudi arabia, Maka datangkan bukti, di mesjid mana di kota mana di Saudi arabia ada mesjid memajang foto ???

Dan tolong tunjukkan apa yang dimaksud dengan hari ulang tahun kelompoknya ??? kapankah itu ?? datangkan buktinya kalau anda jujur.

Adapun pesta-pesta yang diadakan oleh pemerintah Saudi Arabia (bila ada),, maka kami katakan, apakah dengan ini bisa disandarkan kepada para ulamanya ??

Apakah ada ulama yang berfatwa dengannya ?? atau hadir  di pesta tersebut ??? ataukah bahkan mengingkarinya ??

Apakah setiap pesta yang diadakan pemerintah indonesia maka Ulama-ulama Indonesia yang tergabung dengan MUI juga dianggap mendukungnya ??

Berkata di hal 33

Mengenai  fatwa  Ibn  Baz  yang  menentang malam Nisfu Sya’ban, tentunya Imam Syafii lebih mulia  dari  seribu  orang  semacam  pengingkar tersebut, karena Imam Syafii sudah menjadi Imam sebelum Imam Bukhari lahir, dan ia adalah guru dari  Imam Ahmad  bin  Hanbal,  sedangkan  Imam Ahmad  bin  Hanbal  itu  hafal  1.000.000  hadits dengan sanad dan matannya.

CATATAN KAMI

Disini Habib mengatakan bahwa Imam As-Syafi’I lebih mulia dari 1000 orang pengingkar malam Nisfu Sya’ban (seperti Ibnu Baaz), maka tidak ada yang meragukan tentang kemuliaan Imam As-Syafi’I ….

Maka sekarang kami katakan kembali, mana yang lebih mulia dan berilmu apakah Imam As-Syafi’I ataukah ulama yang menguatkan pendapat bolehnya menganjurkan membaca yasin 3x (Hal. 30) membaca doa-doa khusus (hal. 31) membuat panggung dan mengadakan perayaaan (seperti di Monas) manakah yang lebih alim ????

Imam As-Syafi’I dalam keadaan beliau seperti yang anda nukil sendiri bahwa beliau mengatakan (Hal 28-29):

Berkata  Imam  Syafii  rahimahullah  “Doa mustajab adalah pada 5 malam, yaitu malam Jum’at, malam Idul Adha, malam Idul Fitri, malam pertama bulan Rajab, dan malam Nisfu Sya’ban” (Sunan Al Kubra Imam Baihaqiy juz 3 hal 319).

Apakah beliau menganjurkan membaca yasin 3x, berdoa dengan doa-doa yang khusus, membangun panggung dan mengumpulkan manusia ???

Mana yang lebih pintar ?? lebih alim ?? Imam As-Syafi’I ataukah …. ???

Atau mungkin Imam As-Syafi’I termasuk dalam kriteria yang habib munzir sebutkan : “

Beramal  dengan  hadits  dhoif  adalah  boleh, bukan dijadikan dalil hukum syariah ,bukan dijadikan dalil hukum fardhu atau hukum jinayat atau hukum syariah lainnya Mereka tak bisa membedakan antara amal ibadah mustahab dengan hukum fardhu dan syara

Ataukah Imam as-Syafi’I tidak tahu kaidah yang habib Munzir sebutkan : “, maka jelaslah Rasul saw tak melarang berupa ide-ide baru yang datang dari iman, selama tidak merubah syariah yang telah ada, apalagi hal itu merupakan kebaikan” ????

Berkata di hal 30 :

Namun bukan berarti pendapat yang pertama ini batil, karena diakui oleh para muhadditsin, bisa saja  saya  cantumkan  seluruh  fatwa  mereka  akan malam  Nisfu  Sya’ban  beserta  bahasa  arabnya, namun saya kira tak perlulah kita memperpanjang masalah ini pada orang yang dangkal pemahaman syariahnya.

CATATAN KAMI

Yang ingin saya komentari adalah kalimat :

“Orang yang dangkal pemahaman syariahnya ???

Siapakah mereka ?? Siapakah yang mengingkari menghidupkan malam Nisfu Sya’ban yang kata habib Munzir dangkal pemahaman syariahnya ??

Cukup satu saja yang kami nukil, Berkata Imam An-Nawawi salah seorang ulama bermadzhab Syafi’I :

Berkata Imam An_Nawawi : “Sholat yang dikenal dengan sholat Rhogo’ib, yaitu sholat 12 raka’at antara maghrib dan isya, pada malam juma’at pertama dari bulan rajab dan sholat malam pertengahan dari bulan sya’ban 100 raka’at. Maka dua sholat ini adala bid’ah mungkar, maka janganlah tertipu dengan penyebutannya di dalam dua kitab : Quutul Qulub dan  Ihya’ Uluumuddin, dan jangan pula tertipu dengan hadits-hadits yang disebutkan di dua kitab tersebut. maka sesungguhnya semua itu batil. (Al-Majmu’ 4/56)

Dan Ulama As-Syafi’iyah mengingkari tata cara perayaan malam Nisfu Sya’ban yang disebutkan oleh Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Uluumuddin. (Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah )

Ternyata inilah ulama-ulama yang dimaksud dengan ““Orang yang dangkal pemahaman syariahnya ???

 

Waalahu a’lam

 

NB : Kami terus menunggu Ustadz-ustadz kami membantah buku habib Munzir ini, Sebagaimana para ulama membantah gurunya Habib Umar Al-Hafidz di Yaman.

[1]  Mengenai istilah wahabi, klik disini

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 8, 2011 in Bantahan

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: